Bencana alam berupa gempa dan tsunami sampai saat ini masih sulit diantisipasi dan diprediksi, karena proses dan gejalanya secara perlahan dalam waktu yang cukup lama. Bencana alam akan terjadi apabila kulit bumi sudah tidak mampu untuk menahan beban (tenaga) pergeseran kulit bumi. Tanda-tanda ketidakmampuan kulit bumi untuk menahan beban tersebut sulit dipredikasi dan ketidakmampuan menahan beban tersebut akan menyebabkan bergetarnya atau ambruknya kulit bumi sehingga seluruh infrastruktur di permukaan akan hancur.
Untuk meminimalisir kehancuran dan korban jiwa maka perlu memberikan
pemahaman dan pengetahuan pada masyarakat khususnya generasi muda melalui
pembelajaran geografi di sekolah.
Sampai saat ini fenomena Bumi masih merupakan misteri yang sangat sulit untuk diprediksi, mempelajari fenomena Bumi dari waktu ke waktu masih mengalami kesulitan, karena belum ada seorang pun yang mampu memahami secara menyeluruh. Padahal manusia dengan teknologinya telah mengirimkan wahana ke luar angkasa hingga ke planet Pluto yang jaraknya lebih dari 5,9 milyar kilometer, namun untuk mengkaji fenomena Bumi yang memiliki jari-jari hanya 6.370 kilometer saja baru mampu menembus dalam bentuk pengeboran sampai kedalaman 10 kilometer (Mulyo, 2005).
Kemampuan manusia untuk memprediksi terjadinya gerhana matahari dan bulan, mendekatnya komet ke planet Bumi serta berbagai peristiwa astronomi lainnya secara amat tepat dapat diketahui waktunya sejak jauh-jauh sebelumnya, bahkan mampu membuat kalender atau jadwal peredaran benda-benda tersebut. Akan tetapi peristiwa alam yang ada di Bumi seperti tsunami, gempa bumi, letusan gunungapi, tanah longsor, kekeringan, dan banjir bandang hampir tidak pernah diprediksi secara tepat apalagi untuk membuat kalender atau jadwal terjadinya bencana tersebut.
Beragamnya bencana alam yang banyak menelan korban manusia seperti yang terjadi dari tahun 1900 hingga 2005, gempa bumi dengan kekuatan >7 skala Rihcter telah terjadi 212 kali di wilayah Indonesia dengan episenternya di laut sebanyak 182 kali, 152 kali ada di laut dangkal dan 86 kali menimbulkan tsunami. Data 15 tahun terakhir saja, di Indonesia telah terjadi 18 kali gempa bumi kuat yang merusak dan mengakibatkan korban jiwa antara lain gempa Alor 1991, gempa diikuti tsunami Flores 1992, gempa Liwa 1994. gempa diikuti tsunami Banyuwangi 1994, gempa Kerinci 1995, gempa diikuti tsunami Biak 1998, gempa Bengkulu 2000, gempa Majalengka 2001, gempa Simeuleu 2002, gempa Manggarai 2003, gempa Alor 2004, gempa Nabire 2004 (dua kali), gempa diikuti tsunami Aceh 2004, gempa Nias 2005. Hal ini menunjukkan bahwa hampir setiap tahun wilayah Indonesia mengalami bencana gempa yang merusak dan membunuh (Anonim, 2005). Bencana alam yang akan terjadi ada yang dapat diketahui tanda-tanda atau gejala-gejala yang muncul jauh sebelum kejadian, ada juga yang datang secara mendadak dan mengejutkan, sehingga menimbulkan kepanikan umum yang luar
biasa karena sama sekali tidak terduga dan tidak ada seorang pun yang sempat mempersiapkan diri, kalau ada tanda atau gejala pun hanya dalam waktu yang sangat singkat dalam hitungan jam bahkan menit atau detik. Jika bencana alam dapat diketahui gejalanya, maka masyarakat dapat mempersiapkan diri untuk menghindari bencana (memperkecil resiko), sedangkan bencana alam yang gejalanya muncul secara mendadak membuat masyarakat tidak
mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan diri. Bencana alam tersebut merupakan bencana yang paling banyak menelan korban. Kerugian yang disebabkan oleh suatu bencana alam sangat ditentukan oleh ikhtiar (kesiapan, pengetahuan, dan keterampilan) yang dilakukan oleh masyarakat. Kemampuan tersebut tidak diperoleh secara tiba-tiba melainkan harus melalui proses pendidikan dan pelatihan, terutama melalui proses pembelajaran di sekolah.
Category: Pengetahuan
Anda dapat mengikuti respon untuk entri ini melalui RSS 2.0 feed.
Anda bisa tinggalkan komentar, or pelacakan dari situs anda sendiri.
Beri Komentar

